20 Hari Mencari …

October 12, 2008

Baru 20 hari di negeri orang. Alhamdulillah dapat kesempatan lagi melihat negeri orang yang jauhnya ga ketulungan dari rumah Belut dan Sawitsari (Semoga aja nanti sempat ngukur beda jarak antara rumah Belut, Sawitsari, Cuneen Court East, dan Boulevard 1945-4, sebagai analogi kata “jauhnya ga ketulungan”). Klo pengalaman dulu, misinya adalah bisa survive dan enjoy hidup di keluarga orang. Klo sekarang misinya bertambah, selain bisa survive hidup di beda budaya, juga harus survive cari ilmu akademik (biar tahun 2010 ga turun pangkat alias ga boleh cuap2 di depan kelas lagi :) ).

Enschede, dua setengah jam atau 24.50 euro naik kereta dari Amsterdam. Dari stasiun Enschede, cuman butuh waktu 10 menit jalan santai ke ITC. Di kalangan para profesional yang berhubungan dengan data posisi objek di muka bumi, maka ITC bukan nama baru lagi. Tapi klo tanya sama orang ekonomi, psikologi, hukum, apalagi informatika ( :) )..mungkin mereka akan lebih mengenal ITC Mangga Dua dibanding ITC, kampus baru-ku ini.

Bersekolah di ITC sama saja artinya bersiap-siap untuk berinteraksi dengan orang-orang Afrika. Hampir 50% siswa di kelas adalah Afrikans. Keluar kamar, masak di dapur, nyuci di laundry room, masuk lift, jalan ke kampus, duduk di kelas, makan di kantin…semuanyaaa ga bakalan lepas mata dari para Afrikans ini. Some of them can speak English very well, but most of the time, you’ll also find any difficulties to understand what they are trying to say. Awal-awal, aku kira aku punya masalah di pendengaran, ternyata..selidik punya selidik, hampir semua teman Indonesia-ku pun juga punya masalah yang sama. Sehingga, kami pun membuat kesimpulan, orang Afrika memang punya dialek aneh di kuping kami :)

Tentang kota Enschede, hari Minggu seperti saat ini, jalan-jalan dekat tempat tinggalku sepi banget..nget..nget, yang seliweran di jalan bisa dihitung dengan satu tangan per menitnya. Padahal tempat tinggalku di pusat kota, apalagi yang tinggal di pedesaan sono yo? Toko-toko klo hari Minggu memang tutup. Klo hari biasa, jam 6 sore pun juga sudah pada tutup. Aku tidak tau persis, apakah ada peraturan pemerintah yang melarang orang buka toko di hari Minggu atau setelah jam 6 sore. Tampaknya sih ga ada peraturan seperti itu, hal ini mungkin sudah menjadi kebiasaan saja bahwa setelah jam 6 sore dan hari Minggu sudah didaulat jadi “libur bersama” buat toko-toko.

Soal buka tutup toko ini, aku pandang sebagai sebuah hal yang menarik. Sebuah pem-biasa-an bagi masyarakat untuk menganggap bahwa setelah jam 6 sore dan hari minggu adalah saatnya untuk keluarga. Selesai kerja adalah saatnya pulang langsung ke rumah, mo pergi kemana klo yang jualan sudah pada tutup. Klo kerja mbok ingat waktu, gitu kali kata pepatahnya. Jam kerja ada waktunya, jam untuk bercengkrama dengan keluarga pun juga ikut dijatah.

Have a nice day, folks :)

2 Responses to “20 Hari Mencari …”

  1. fahmy Says:

    pa kbr bu lisda…??
    sering2 nge-blog ya bu..biar saya bisa merasakan gmn kehidupan disana..
    ya..siapa tau bisa segera menyusul…:)
    amin…

  2. ufi yusuf Says:

    ass mbak lizda
    waa…pantesan lama ndak lihat di kampus *sok sering ke kampus gitu*
    pasti bakalan kangen nih
    selamat menempuh “hari-hari baru ya”
    sukses ya mbak

Leave a Reply